Artinya: “Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Begitu pula peran guru di dalam kelas, setiap perilaku, keputusan, dan arahan guru akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ. Seorang guru yang memiliki kepemimpinan baik akan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, inspiratif, dan penuh nilai-nilai kebaikan. Ketika siswa melihat guru sebagai teladan, mereka akan lebih mudah terbuka dalam belajar, sehingga proses pendidikan berjalan dengan penuh makna dan keikhlasan. Kepemimpinan guru ini dapat terlihat dalam hal kedisiplinan, kasih sayang, serta keadilan di dalam kelas.
Contoh sederhana adalah bagaimana guru mengelola kelasnya, memberikan tugas secara bijak, atau menangani konflik dengan penuh kebijaksanaan. Seorang guru yang disiplin akan menanamkan rasa tanggung jawab pada siswa. Seorang guru yang penuh kasih sayang akan mampu memahami setiap kebutuhan siswa, baik yang cepat memahami pelajaran maupun yang membutuhkan perhatian lebih.
Kepemimpinan guru di kelas juga berarti mampu memberikan dorongan dan semangat pada siswa. Ketika mereka lelah atau kehilangan motivasi, tugas seorang guru adalah memberikan inspirasi agar mereka tidak mudah menyerah. Guru juga berperan dalam membimbing siswa untuk menjadi pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.
Bagaimana gaya kepemimpinan seorang guru dapat mempengaruhi suasana belajar dan hasil pembelajaran siswa?. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang, sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ memimpin umatnya dengan sifat rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi semesta alam).
Ada beberapa gaya kepemimpinan yang sering diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran, dan masing-masing gaya memiliki kelebihan serta waktu yang tepat untuk digunakan:
- Kepemimpinan Demokratis. Gaya ini melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan. Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat dan menghargai masukan mereka. Ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong musyawarah (syura) dalam segala hal, sebagaimana Allah ﷻ berfirman: "Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka." (TQS. Asy-Syura: 38). Dengan demikian, suasana belajar menjadi lebih kondusif dan siswa merasa dihargai.
- Kepemimpinan Otoritatif. Gaya ini lebih menekankan pada ketegasan dan instruksi langsung, yang sangat efektif untuk menjaga disiplin atau saat siswa membutuhkan arahan yang jelas. Dalam Islam, sikap tegas diperlukan untuk menjaga kebaikan dan kedisiplinan, namun tetap harus dilandasi kasih sayang. Seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam mendidik para sahabatnya, beliau tetap lembut dan mengarahkan mereka dengan hikmah.
- Kepemimpinan Visioner. Guru yang visioner menginspirasi siswa dengan menunjukkan tujuan besar dalam proses belajar mereka, membuat siswa memahami makna dan tujuan jangka panjang dari pelajaran. Makna yang mendalam dalam firman Allah ﷻ QS. Al-Hasyr ayat 18 bahwa "Dan hendaklah kamu memiliki pandangan yang jauh ke depan...". Dengan gaya ini, siswa menjadi lebih bersemangat karena mereka diajak untuk melihat tujuan besar dari ilmu yang dipelajari.
- Kepemimpinan Kolaboratif. Dalam gaya ini, guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung siswa dalam bekerja sama dan saling membantu. Rasulullah ﷺ selalu mengajarkan pentingnya tolong-menolong dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana sabda beliau yang arti atau maknanya,: "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menciptakan suasana kelas yang harmonis dan penuh persatuan.
Demikianlah, setiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan masing-masing. Seorang guru yang bijak akan mampu memilih dan menyesuaikan gaya yang tepat sesuai dengan situasi dan kebutuhan siswa. Semoga kita semua dapat menjadi pemimpin yang membawa keberkahan bagi siswa kita, serta menjalankan amanah ini dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.
Dengan kepemimpinan yang baik, insya Allah siswa akan menjadi pribadi yang cerdas, beriman, dan berakhlak mulia. Sehingga terbentuk generasi yang berilmu, beramal, dan bermanfaat bagi umat. Semoga kita sebagai guru dapat menjalankan peran ini dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab. Semoga Allah ﷻ memberikan kekuatan dan petunjuk kepada kita agar dapat menjadi pemimpin yang baik bagi anak-anak didik kita.
Wallahu a'lam bishawab.
***